Dari MPS untuk Pengungsi Rohingya

Publik saat ini tersentak dengan berbagai pemberitaan seputar kaum minoritas di myanmar yaitu etnis Rohingya yang harus terusir dari kampung halamannya sendiri di Rakhine, Myanmar serta tidak mendapatkan pengakuan dari negaranya bahwa mereka merupakan warga negara yang harus mendapatkan perlindungan. Lebih dari itu! Pembantaian etnis ini dilakukan secara terang-terangan dan tanpa mempertimbangkan rasa kemanusiaan. Namun apa yang terjadi? Dunia seolah diam dan membisu, berusaha tuli dan tak peduli seolah buta.

Maka dari itu kami dari MPS (Mahasiswa Peduli Somalia) yang selama ini fokus terhadap masalah di Somalia ikut terketuk untuk membantu para pengungsi Rohingya yang hingga saat ini nasibnya sangat memperihatinkan. Dibulan yang mulia ini kami bertekad untuk membantu sebagaimana yang telah kami lakukan untuk somalia, menyebarluaskan kepedulian ini dan mengumpulkan donasi untuk pengungsi Rohingya.
Besar harapan kami banyak masyarakat yang semakin peduli akan masalah kemanusiaan terutama nasib saudaranya yang membutuhkan bantuan, minimal dengan menengadahkan tangannya untuk berdoa kepada Allah SWT agar diringankan segala penderitaan saudara- saudara kita di Rohingya.
Langkah awal yang kami lakukan yaitu dengan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mempercepat bantuan dalam bentuk donasi, salah satunya bekerjasama dengan penulis buku “Manajemen Dosa” dan presenter TV, Agus Idwar yang mendonasikan 100% hasil dari penjualan bukunya untuk Rohingya. MPS masih bekerjasama serta bersinergi dengan GPPK (Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan) dan Da’i Keliling selama ramadhan ini.

Semoga langkah kecil ini dapat sedikit meringankan beratnya beban yang harus dipikul para pengungsi Rohingya, dan bagi para pembaca kami memohon untuk senantiasa menyelipkan do’a untuk mereka. (Anis/MPS) Wallahu’alam Bishowab

Jurnalistik Kemanusiaan : Mengugah Kepedulian Melalui Aktivitas Jurnalistik

Kamis pagi(26/07)di sebuah kampus negeri di kawasan ciputat, tangerang selatan terasa berbeda seperti hari- hari sebelumnya, sudah ada kesibukan yang tak biasa disaat perkuliahan sedang non aktif pasca ujian akhir semester genap. Hari itu akan diselenggarakan acara Training Jurnalistik Kemanusiaan yang baru pertama kali diadakan bagi kalangan mahasiswa dan sederajat di wilayah Jabodetabek.

Training Jurnalistik Kemanusiaan ini di inisiasi oleh bapak Iqbal Setyarso selaku pembina MPS (Mahasiswa Peduli Somalia)  merangkap sebagai direktur GPM (Global Philantrophy Media) yang telah lama berkecimpung dalam dunia jurnalistik kemanusiaan dan mengandeng MPS bersama ACT (Aksi Cepat Tanggap) dalam memperkenalkan dunia kemanusiaan yang penuh tantangan dari kacamata jurnalistik.

Kegiatan ini diikuti kurang lebih 132 peserta dari berbagai kampus di wilayah Jabodetabek seperti UIN Jakarta, UI, UMJ, STIE Ahmad Dahlan, STEI SEBI, STEI Tazkia, LIPIA, Unpam, Al-Hikmah, dan beberapa kampus lainnya.

Acara ini dibuka oleh Purek III bidang kemahasiswaan UIN bapak Sudarnoto Abdul Hakim dan Presiden Aksi Cepat Tanggap yaitu bapak Ahyudin. Besar harapan banyak pihak jurnalistik kemanusiaan angkatan pertama ini dapat menghasilkan kader jurnalistik yang tidak hanya memiliki kemampuan yang baik dalam bidang jurnalistik namun juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah- masalah kemanusiaan yang ada saat ini, baik di dalam maupun di luar negeri seperti Somalia, Rohingya, Palestina, Irak, Afghanistan, Mesir, dll.

Salam Kemanusiaan! Sampai Jumpa di Training Jurnalistik Kemanusiaan Angkatan II yang lebih spektakuler lagi (Anis/MPS)

COOMING SOON….

Tertarik dengan dunia jurnalistik?
Peduli juga dengan dunia kemanusiaan?
Mau tau lebih jauh tentang keduanya?
Gampaaangg

Yukk isi ramadhanmu dengan kegiatan bermanfaat dan penuh ilmu
di Pelatihan Dasar Jurnalistik Kemanusiaan

Akan diselenggarakan 26 Juli 2012 pukul 08.00-16.00 @ Aula SC
Gratis Gratis tisss tissss!!!

*fasilitas : handout, alat tulis, sertifikat, takjil, buka puasa

Pendaftaran: ketik MPS (spasi) Nama (spasi) Kampus kirim ke 081283889694

buruuuaann daftar, karena terbatas hanya 100 peserta!!!

 

MPS MENJADI ANGGOTA KISS YANG BARU

Jakarta_Menyambut bulan ramadhan  yang akan menjelang, KISS (Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia) mengadakan konsolidasi terkait masalah Somalia dengan mengundang  tidak kurang dari 30 lembaga yang menjadi anggota KISS. Acara yang juga dihadiri oleh Direktur global Islamic filantropy (GIP) dibuka dengan sambutan dari ketua konsolidasi KISS yang sekaligus menginformasikan masuknya dua anggota baru KISS yakni MPS (mahasiswa peduli Somalia) dan Jama’ah Salahudin UGM.

Agenda  konsolidasi yang diselenggarkan pada selasa 19 juni 2012 bertempat di kantor pusat BSM (Bank Syariah Mandiri) membahas terkait Rencana aksi yang akan dilakukan untuk Somalia pada tahun 2012 ini, rencana aksi diantaranya pengiriman relawan guru, water for humanity, milk for somalia Kids, Food for somalia dan global qurban. Pada kesempatan itu pula KISS memberikan laporan kepada lembaga yang telah mendukung suksesnya ACTion tim tiga yang membantu Somalia pada idul adha 2011 yang lalu kepada lembaga yang hadir di acra tersebut

Rangkaian acara dilanjutkan dengan melelang sketsa lukisan kondisi Somalia dari pelukis Farid Shan yang juga menjadi relawan Somalia bersama action tim 3.  Dari lelang tersebut terjual sejumlah lukisan sehingga terkumpul dana hingga 46.000.000 yang hasilnya akan kembali dipergunakan untuk membantu Somalia.

Menjelang akhir acara seluruh peserta yang hadir diminta memberikan masukan pada kiss agar kedepanya aksi yang telah dirancang menjadi lebih baik. Acara konsolidasi ini juga diadakan penandatanganan nota kesepakatan dari berbagai lembaga agar selalu berkomitmen mendukung agenda KISS untuk Somalia  kedepan. Nota kesepakatan itu ditandatangani perwakilan berbagai pihak diantaranya Presiden GIP, Direktur Eksekutif ACT,  Dir BSM, LAZ BSM, Direktur Global Philantropy Media, Forum Zakat, Darutahid, MPS, majelis zikir Azikra, Global Qurban, JS UGM, GPPK( gerakan para pendongeng kemanusiaan), dini media pro, tim ITB yang bertugas merancang system perairan Somalia, dan pelukis Farid Shan.

Acara ditutup dengan doa dan harapan agar apa yang telah dirancang bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat kepada saudara –saudara di Somalia. (FM/MPS)

JURNALISTIK KEPEMIMPINAN

“Jika menulis hanya untuk menyelesaikan tugas dan sekedar melaporkan maka tulisan kita hanya akan bertahan satu atau dua hari, tapi jika tulisan kita didorong dengan keinginan menyebarkan gagasan hebat memberi pengaruh pada banyak orang maka tulisan kita akan abadi”. Itulah penjelasan dari Iqbal Setyarso selaku nara sumber pada pelatihan jurnalistik kepemimpinan di kantor ACT sabtu pagi 16 juni 2012.

Pelatihan rutin yang diadakan tiap hari sabtu ini bermaksud menambah wawasan  para relawan dan staf ACT, materi yang dibahas berbeda setiap minggunya. Untuk sekarang materinya ialah jurnalistik kepemimpinan yang sangat berbeda dengan pelatihan jurnalistik pada umumnya. perbedaanya yang sangat terlihat yakni pada tujuanya. Jika jurnalistik pada umumnya menuliskan suatu kejadian atau peristiwa dengan objektif sesuai dengan keadaan yang ada maka pada jurnalistik kepemimpinan tak sekedar itu tapi bagaima tulisan kita bisa menginspirasi banyak orang dan mendorong leadership.

Yang istimewa pelatihan ini tidak hanya dihadiri oleh staf dan relawan ACT namun MPS (mahasiswa peduli Somalia)  mendapat kehormatan mengikuti pelatihan yang menginspirasi ini. Pelatihan yang di mulai dari jam Sembilan pagi hingga dua siang dirasa sebentar oleh peserta khusunya tim MPS. Karena materi yang dibawakan tidak satu arah dari nara sumber, namun semua peserta bisa berpartisipasi dalam bertanya, menjawab ataupun sharing  tentang apa saja dengan nyaman, sehingga suasana hangat terbangun antar peserta maupun peserta dengan nara sumber.

Pelatihan jurnalistik kepemimpinan juga mengajari kita mencari dan menulis berita dengan hati, yang diistilahkan ‘berkarya dengan cinta’ sehingga hasilnya akan maksimal. Nara sumber Iqbal Setyarso tak lupa memberi tips mudah untuk mulai menulis yakni temukan manusianya, temukan peristiwanya, dan deskripsikan rasanya. Jika tiga hal itu sudah kita lakukan lengkapilah  tulisan itu dengan nilai,solusi dan dream sehingga tulisan kita menjjadi bermakna dan menggugah banyak orang.

Tak ada yang meragukan pada pelatihan kali ini semua peserta pulang dengan semangat baru untuk perubahan, tim MPS pun ingin segara menulis, tentu tulisan yang menginspirasi (FM/MPS)

Membantu Sempurna, Sempurna Menerima

Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang soleh baik lelaki maupun wanita sedang ia seorang yang beriman maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisaa : 124)

Inilah janji Sang Maha Pencipta pada hambanya jika kita mengerjakan kebajikan bukan hanya akan dibalas dengan kebajikan yang setimpal tapi dijanjikan dengan balasan syurga-Nya yang tak bisa disamakan dengan materi apapun di dunia ini.

Banyak dari kita mungkin juga sudah pernah merasakan sendiri ‘berkah’ yang menyapa kala kita meringankan beban orang lain. Balasan itu akan selalu setimpal bahkan lebih, tidak akan pernah kurang sedikitpun jika kita menyadarinya. Walupun balasanya tak selalu berbentuk materi dan uang.

Jika kita membantu seseorang keluar dari masalahnya maka suatu saat ketika anda mengalami masalah maka Allah memberikan jalan keluarnya, ketika anda menggembirakan seseorang dikala sedih, maka ketika anda menagis Allah akan mengirim seseorang yang menghapus air mata anda dan membuat anda tersenyum, ketika anda meringankan beban orang lain bersiaplah AllAh akan meringankan beben anda.

Betapa luar biasa, ketika kita membantu orang lain maka kelak balasanya Allah lah yang akan membantu kita, tentu sangat lebih luar biasa.

Sesungguhnya jika kita menyadari dengan adanya orang-orang yang kekurangan, yang butuh pertolongan, yang bermasalah disekitar kita, lalu kita membantu mereka jangan merasa kita sebagai penolong dan pahlawan mereka justru merekalah “Malaikat Kehidupan” kita. Karena dengan adanya orang yang kita bantu  maka dengan itu Allah SWT Sang Tuhan Semesta Alam akan membantu kita. Jika begitu bukankah kita yang mendapat pertolongan? Bukankah kita yang beruntung? Maka benarlah jika kita menyebut meraka “malikat kehidupan” karena dengan mereka kita mendapat berkah dari Tuhan.

MENGHARGAI WAKTU BAHKAN MASA LALU

Sering sekali dalam hidup kita mendengar ungkapan orang disekitar kita yang mengatakan “Lupakan masa lalu, dan tatap masa depan”, “jangan sekali-kali menoleh kebelakang”, ada juga yang menyatakan “lupakanlah apa yang sudah berlalu”. Ungkapan-ungkapan diatas tidak salah namun juga tidak sepenuhnya benar, tidak salah kita melupakan masa lalu jika dengan mengingatnya membuat kita hanya bisa bersedih dan meratapi apa yang telah terjadi dan akhirnya membuat kita sulit menatap masa depan.

Tapi ada hal yang sebagai manusia kita sering lupa bahwa masa lalu tak mungkin bisa dihilangkan karena masa lalu ialah peristiwa yang benar-benar telah kita rasakan, justru masa depanlah yang sering tak bisa kita imajinasikan dengan sempurna karena mereka masih berupa harapan, itu merupakan hal yang wajar. Oleh sebab itu ambillah hikmah dari masa lalu agar menjadi bekal untuk kita.

Dan saya juga dibesarkan oleh masa lalu. Mengapa hari ini saya dan teman-teman MPS memperjuangkan negara Somalia hingga ingin sekali mengajar di negara  yang terkoyak dengan segala macam persoalannya tersebut? Awalnya saya juga tidak mengerti pada diri saya sendiri, mengapa dengan begitu saja memilih mengurusi somalia dari banyak hal yang bisa saya lakukan sebagai mahasiswa? Mengapa saya memilih berkumpul dengan teman-teman yang punya cita-cita yang sama dan menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berfikir, berdiskusi,bergerak untuk Somalia? Apa sebabnya, awalnya saya pun tidak mengerti.

Barulah saya menyadari bahwa pada masa lalu, saya juga mengalami perang saudara yang mengerikan di tempat asal saya ‘tanah Maluku’. Saya sangat memahami hidup dalam ketidak pastian, hidup dalam ketakutan, hidup dalam kesedihan dan air mata, hidup tanpa sekolah yang jelas.

Saya merasakan semua detailnya, bagaimana rasanya  pelarian mencari tempat yang aman dengan kapal kayu yang berkapasitas pas-pasan lalu hampir karam di pulau yang dihuni musuh, saya tahu rasanya mengungsi, saya tahu rasanya berlari menyelamatkan diri dari kobaran api dari serangan musuh yang menyerang. Saya tahu rasanya kehilangan, saya melihat dengan mata kepala saya bagaimana berbondong-bondong orang berjuang menyelamatkan diri untuk naik ke kapal penyelamat hingga banyak yang terjatuh kepantai, saya tahu rasanya harus berbagi makanan seadanya. Saya memahami dan merasakan detailnya hingga sekarang, Ya Allah saya baru menyadari itu semua…karena saya dibesarkan dari masa lalu. Maka dengan masa lalu itu saya sedikit mengerti perasaan apa yang dirasakan oleh warga Somalia dan membuat saya dan teman-teman tergerak berjuang membantu mereka.

Inilah mengapa Bung Karno menyatakan JASMERAH yang artinya bahwa jangan sekali-kali kita melupakan sejarah. Dan islam justru mengajarkan kita belajar dari masa lalu, hal itu sangat terlihat dari isi Al-quran. Berapa banyak isi Al-quran yang menceritakan kisah-kisah yang telah ber abad – abad lamanya, kisah para nabi, kisah pemuda Ashabul kahfi, Kisah raja-raja Zhalim, kisah kaum-kaum pembangkang dan banyak lainya. Semua itu tentu mempunyai tujuan. Bahwa kita diajarkan untuk menghargai waktu bahkan masa lalu, bukan untuk dilupakan tapi diambil pelajaran untuk menapaki masa depan. Masa depan yang cemerlang Insaallah.

HARI YANG LUAR BIASA

 

Mungkin ini yang disebut perjuangan, belum genap setengah tahun MPS berdiri namun sudah banyak hal yang kami (MPS) alami. Dan hari ini adalah salah satunya. Hari yang luar biasa karena kami mengalami banyak hal yang membuat kami sedih, bahagia, bangga, tersadar dan akhirnya berazzam untuk terus berjuang…dan semua itu terjadi  dalam satu hari.

Rabu 6 juni 2012 yah tepat hari ini, sebaiknya hari istmewa ini kami catat sebagai sejarah perjuangan MPS, karena kami di ajarkan untuk selalu menghargai waktu walaupun itu sebuah masa lalu. Pagi jam 10.00 tepatnya kami memulai dengan rapat lanjutan pembuatan proposal  seminar jurnalistik yang sedang kami agendakan untuk bulan depan agar sorenya bisa segera kami serahkan ke ACT, kebetulan pada hari ini Pak Iqbal salah satu dari pembimbing MPS mengajak kami bertemu di ACT.

Pada pagi hari kami memulai rapat namun beberapa dari kami memiliki agenda yang tidak bisa dilewatkan sebagai mahasisiwa. Yakni ujian kompre yang menjadi sarat dalam mengikuti sidang akhir, sedangkan saya harus bertemu dengan dosen di fakultas  jika menginginkan proposal skripsi saya segera diikutkan dalam seminar proposal siangnya.

Karena teman-teman sangat bijak mereka mengijinkan dua orang dari kami untuk menyelesaikan tugas kami dahulu dan mereka meneruskan rapat.  Saya terlebih dahulu yang meninggalkan rapat sedangkan dian masih mau rapat hingga siangnya saat ujian kompre akan dimulai.

Ternyata saya bersyukur diijinkan untuk mengikuti seminar proposal untuk menentukan apa skripsi saya bisa diteruskan atau tidak, siang ini juga. Karena masih ada waktu beberapa jam lagi hingga jam satu siang maka saya putuskan untuk kembali merapat dengan teman-teman MPS. Tidak berapa lama rapat terkait budget selesai. Namun salah satu dari personel kami minta ijin untuk berbicara secara khusus pada rapat kali ini, memang akhir-akhir ini beliau jarang mengikuti kegiatan MPS karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan, dan kami semua mengijinkan. Kami pikir pada kesempatan kali ini ia ingin meminta maaf karena kontribusinya yang kurang maksimal, namun yang mengagetkan ia menyatakan ingin mengundurkan diri dari perjuangan MPS. Kami bingung harus berkata apa kali itu, kami betul-betul kaget dengan pernyataan yang ia buat. Yang bisa kami katakan akhirnya adalah agar ia berfikir kembali atas keputusanya tersebut.

Rapat ditutup dengan sedih, sampailah kami bertemu sore hari di kantor ACT.Dua teman saya telah sampai ditempat terlebih dahulu saat saya tiba di kantor ACT dan mereka menyatakan ada berita gembira sambil memberikan sepucuk surat. Saya teliti baik-baik suratnya dan saya  tak menyangka, ini sungguh mengesankan, surat berisi undangan rapat kordinasi bersama para pimpinan KISS(Komite Indonesia untuk Solidaritas  Somalia) di kantor pusat BSM tamrin. Kami sungguh terrsanjung mendapat surat tersebut. Hal ini karena kami adalah orang baru dalam organisasi kerelawanan yang peduli pada somalia walaupun kami satu-satunya yang berasal dari kalangan mahasiswa. Tapi sungguh kami menyadari, kami belum ada apa-apanya terkait kontribusi untuk somalia di bandingkan yang lain.  namun membekas sedih karena salah satu teman kami tidak bisa merasakan kebahagian perjuangan kami atas keputusanya siang tadi.

Saat personil MPS kami rasa sudah lengkap dan Pak Iqbal sudah siap, kami mulai pelatihan diruang meeting. Pak iqbal mengawali pelatihan dengan menceritakan perjuangan jurnalis amerika dalam memberitakan kebenaran, dan secara profesional tidak menerima iklan agar tetap konsisten pada kebenaran dan ternyata didukung oleh publik amerika.

Dalam pertemuan kali ini banyak sekali mutiara dan hikmah kehidupan yang dapat kami ambil. Beberapa menit sebelum magrib pak iqbal meminta tolong pada salah seorang Ob untuk membelikan mie ayam, dan ob tersebut juga dengan ramah menyediakan kami teh manis hangat.

Pembicaraan hangat terhenti karena azan magrib dan kebetulan beberapa dari kami puasa segeralah kami semua membabat mie ayam spesial dan teh manis hangat yang sangat memanjakan perut kami. Setelah itu kami Shalat magrib dan memulai kembali sering yang penuh hikmah ini.

Namun kali ini pak iqbal bertanya brapa kali kalian minum teh di kantor ini? kami jawab sudah beberapa kali”. Pak iqbal bertanya”menurut kalian ada yang beda dengan teh ini?” Kami menjawab lebih enak pak, anget”. “Kalian tahu, yang menyediakan tadi adalah orang yang selalu menjaga wudhunya, selalu berbicara baik, beliau orang MUI di kampugnya dan beliau sudah melaksanakan ibadah haji.” Kami semua tertohok, kaget dan terdiam beberapa dari kami bahkan matanya berkaca-kaca, tidak menyangka betapa mulianya orang yang menyugukan kami hidangan enak ini, kali ini dan seterusnya saya tak akan menyebutnya OB lagi, saya berjanji dalam hati. Saya tersadar betapa banyak orang hebat disekitar kita tapi kita sering tidak menyadarinya.

Dan sharing penuh hikmah kali ini diakhiri dengan tugas membuat tiga tulisan menarik, cukup banyak, tapi kami semua menerima tugas ini dengan senang hati dan membuat kami bersemangat untuk terus melangkah dan mencapai tujuan  menjadi sebaik-baik manusia yakni manusia yang bermanfaat. Amin ya Rabb (FM/MPS)


HOPE IN HELL (Inside The World Doctors without Borders)

Judul Buku : HOPE IN HELL (Inside The World of Doctors Without Borders)

Ditulis oleh :  Dian Intan Yasmin Putri

Divisi  : Kerelawanan

Image

Sekelompok dokter-dokter perancis bekerja di rumah sakit palang merah di Biafra, Nigeria pada tahun 1968. Mereka terkejut terhadap apa yang mereka lihat -ratusan dari ribuan anak-anak meninggal karena kekurangan gizi- dan mereka percaya bahwa mereka adalah saksi dari sebuah genosida (red.upaya memusnahkan suatu bangsa). Dokter Perancis, Bernand Koucher, tidak bisa tinggal diam melihat kejadian itu. Kembalinya ke Perancis, mereka mengorganisir kelompok untuk meningkatkan kesadaran akan genosida dan nantinya, sekelompok dokter-dokter tersebut mengabdikan dirinya  untuk bantuan medis darurat. Pada waktu yang sama, surat kabar medis Perancis mengabarkan sebuah panggilan untuk relawan-relawan dokter untuk membantu korban gempa dan banjir. Dua kelompok akhirnya terbentuk ada tahun 1972 dari dan untuk Medecins Sans Frontieres (MSF). 29 tahun kemudian, MSF menerima sebuah nobel “Peace Prize for Being Emergency Aid Rebels” yang telah membuka jalan baru dalam dunia kemanusian internasional.

MSF – juga dikenal di Amerika utara sebagai doketer tanpa batas, dan secara universal, dikenal sebagai MSF – adalah organisasi kemanusian medis independen yang terbesar di dunia. Pada tahun 2008, MSF dalam proyek berjalannya di 65 negara, menempatkan lebih dari 26.000 staf di lapangan. Saat MSF terkenal untuk proyek-proyek besar di area konflik, kamp-kamp pengungsi, dan negara-negara yang dilanda kelaparan, MSF juga menjalankan program diluar dalam lingkup yang lebih kecil di bidang media; mendukung klinik-klinik kesehatan di daerah pedalaman;  menyediakan perawatan untuk korban AIDS; membawa air bersih dan sanitasi untuk desa-desa terpencil.

MSF fokus kepada bantuan untuk masyarakat yang terkena krisis akut, seperti perang atau kelparan, wabah atau bencana alam. MSF membawa kepedulian akan kesehatan untuk area-area miskin, tapi tidak berusaha untuk menghapuskan kemiskinan.

Di tahun 1980an , MSF menambahkan kantor –kantor di Belgium, Swiss, Belanda, Perancis, Luxemburg. Reputasi MSF secara terus-menerus tumbuh. MSF menjadi dikagumi karena logistikannya dan keefisienannya dalam penggunaan sumber daya.

Selama tahun 1990an, MSF menjadi sebuah organisasi global, menambah bagian di US, Kanada, Jeppang, Hong Kong, Australia. Dekade pertama dari tahun milenium  baru membawa tantangan baru, dari kejadian 11 September “perang dalam teror” sampai kelumpuhan Darfur dan yang berdekatan dengan Chad, dan kelaparan di Nigeria. MSF terus menerus mengembangkan dirinya sebagai sebuah organisasi; menambah partner baru yang sebagian besar adalah negara-negara islam; menambah kan kantornya di Afrika Selatan, Afrika, dan Asia; dan memberikan tanggung jawab yang lebih kepada stafnya.

Chapter one : Pemberhentian dan Kelahiran

Dr. Wendy Lai terbiasa menyaksikan wanita-wanita melahirkan bayi-bayinya di tempat yang tidak biasa. Sejak kedatangannya di Port-au-Prince pada bulan September 2008, dokter yang berumur 33 tahun itu,  melihat ibu-ibu melahirkan di tangga-tangga, kamar mandi, dan diatas tanah diluar Jude Anne, rumah sakit bersalin yang dioperasikan oleh MSF cabang Belanda. Tapi bahkan Lai sangat terkejut ketika seorang pengawal menjemputnya di akhir bulan Oktober untuk mengatakan bahwa seorang wanita telah melahirkan di persimpangan jalan.

Lai dan pengawal itu terburu-buru berjalan menuruni Delmas, salah satu jalan tersibuk di Haitian Capital. Tiba-tiba, ada seorang pasien yang berada di bangku belakang di sebuah stasiun kereta tua, berhenti memukulkan perutnya di tengah-tengah keramaian persimpangan jalan itu. Bayi itu terlihat kuat dan sehat, sehingga Lai mengepit dan memotong tali pusar, menggosok-gosok bayi itu dengan selimut, dan berjalan bersama ayahnya yang menyeringai senang dan kembali ke Jude Anne.

Lima bulan kemudian, Lai dan kolega-kolega MSFnya sedang menyelesaikan makannya di satu-satunya restoran italia yang hanya ada di Petionville, bagian pinggiran kota Port-au-Prince. Bartender itu mendatangi meja makannya dengan senyum lebar dan sebuah foto seorang bayi wanita. Dia menunjukan gambar itu kepada Lai dan bertanya apakah Lai mengingat anak ini. Laki-laki itu secara jelas menyadari Lai sebagai salah salah seorang dari beberapa dokter dari rumah sakit dimana bayinya lahir. Lai tidak ingin kasar, tapi Jude Anne sedang menangani lebih dari seribu lahiran setiap bulannya. Bagaimana mungkin dia mengingat bayi ini? Tapi ayah itu bersikukuh. “kamu mengingat.” Katanya. “Dia lahir di dalam mobil,  Di persimpangan jalan”.Kata laki-laki itu. Lai tersenyum saat ingatan akan hal itu kembali, ingatan tajam mengenai nilai-nilai bekerja MSF di negara bermasalah ini. “ itu sangat melegakan untuk melihat bayi-bayi di Jude Anne nantinya, berjalan dengan baik, “dia seharusnya menulis di journalnya.” Pada bulan Oktober, karena kita ada pertemuan penuh sehingga membuat kita sibuk. Kadangkala, kita lupa bahwa bayi itu tumbuh dan berkembang dan mempunyai masa depan., karena kita tidak ada disana untuk mengikuti perkembangan mereka. Tapi, tentunya, Jude Anne Hospital melakukannya. Dan orang mereka tidak akan melupakannya”.

Sebelum Wendy Lai tiba di Haiti, dia bekerja di rumah sakit Toronto yang mengerjakan ilmu kebidanan dengan risiko yang rendah. Itu berarti proses kelahiran yang tidak begitu rumit dengan fasilitas peralatan yang baik, dan dengan seorang dokter yang selalu menyediakan seseorang yang siap memback-up dan banyak tenaga kerja suster yang membantu. Ibu yang melahirkan di persimpangan itu adalah bebarapa diantaranya yang beruntung; paling tidak dia ditangani baik dalam perawatan medisnya, sebuah sesuatu yang jarang di negara Caribbean dari 9 juta penduduknya. Bagi sebagian, pemeliharaan kesehatan di Haiti adalah sebuah malapetaka, khususnya bagi wanita dan anak-anak. Negara ini, memiliki tingkat kematian bayi  dan kematian ibu tertinggi di bagian baratnya. Untuk setiap 1000 bayi yang lahir disini, sekitar 60-nya tidak akan bisa melihat ulangtahun pertama mereka ( membandingkan 5 atau 6 di US, Kanada, dan UK), dan sekitar 5 ibu meninggal, rata-rata paling tidak 50 kali, hal ini  terjadi di negara-negara berkembang. Sementara minoritas orang-orang kaya dapat memberikan perawatan dengan kualitas baik di banyak klinik-klinik milik privat di  Port-au-Prince dan beberapa rumah sakit disana. sebanayak 70% dari populasi ini tidak memiliki sama sekali pemeliharaan kesehatan. Tidak aneh, harapan hidup dari kelahiran bayi di Haiti hari ini lebih rendah dari 61 tahun yang lalu, peringkat ke 181 diantara 224 negara di dunia. Angka-angka itulah yang MSF sedang harapkan untuk merubahnya.

Perawatan untuk para ibu di Haiti seharusnya gratis. Pada Maret 2008, Menteri kesehatan negara meluncurkan sebuah program  yang disebut Soins Obstetriques Ggratuits, di desain untuk memberikan harapan pada setiap ibu dengan adanya 4 fasilitas konsultasi sebelum melahirkan, fasilitas kelahiran di rumah sakit umum – termasuk proses sesar apabila dibutuhkan- satu fasilitas kunjungan setelah melahirkan, dan kebutuhan pengobatan lainnya. Berdasarkan program ini, rumah sakit umum diharapkan memberikan perawatannya secara gratis dan nantinya mengumpulkan sebuah tuntutan kepada WHO untuk penukaran pembayaran. Satu tahun setelah itu, MSF menemukan bahwa banyak wanita yang tentu saja dapat melahirkan secara gratis, tapi mereka masih diminta untuk membayar obat-obatan, dan itu terjadi di  sebuah negara semiskin Haiti, bahkan $5 sulit untuk  bisa didapatkan.

Dengan sedikit terkejut, ibu-ibu yang sedang mengandung membanjiri Jude Anne sesegera, rumah sakit itu dibuka pada bulan Maret 2006. Pada saat itu, Lai tiba dua sampai satu setengah tahun kemudian, 65 tempat tidur di rumah sakit diisi oleh rata-rata lebih dari 50 orang yang melahirkan per harinya, dengan hari-hari yang teramai bisa mencapai 80 orang.  Kepadatan akut terjadi di bulan Oktober 2008.

MSF Jude Anne di Port-au-Prince sering penuh sehingga para pekerja wanita terpaksa bebohong kepada para pasien yang sedang menunggu antrian kamar. Tapi Jude Anne tetap menawarkan beberapa rumah sakit bersalin yang terbaik di kota ini.

Alasan mengapa terjadi peningkatan kelahiran secara dramatis selama bulan oktober adalah seperti banyak negara-negara Karibia lainnya, Haiti merayakan karnaval di bulan Februari dan Maret, selama 3 hari dengan pertunjukan musik, pawai, pakaian tradisional, tari-tarian, dan dalam melakukan hubungan seks. 9 bulan kemudian, gelombang karnaval untuk para baiyi-bayi tiba. Ketika Lai pertama kali mendengar cerita mengenai masa puncak reproduktivitas Haiti, dia berpikir bahwa itu adalah legenda di kota itu. Tapi ketika dia mengetes itu dengan roda kehamilan – sebuah alat yang dapat digunakan untuk menentukan tanggal kelahiran berdasarkan siklus periode terakhir menstruasi wanita – dia menemukan bahwa perhitungan dengan alat itu berhasil. “ untuk seseorang yang mengandung selama Mardi Gras, peride menstruasi terakhir seharusnya sekitar minggu pertama bulan Februari. Saya Menggunakan roda kehamilan dan melihat tanggal kelahiran seharusnya dari satu masa kehamilan penuh, dan itu jatuh terpukul pada bulan Oktober. suasana agak sepi di rumah sakit pada bulan Februari dan Maret, dan pada bulan April dan Mei, kita mulai melihat berbagai keguguran yang secara tiba-tiba dan wanita-wanita yang berusaha mengaborsi kandungannya. Dan juga wanita-wanita akan mulai  berdatangan dengan berbagai komplikasi pada awal kehamilan, seperti kehamilan Ectopic. Sepanjang musim panas, kita mulai melihat bayi-bayi prematur, dan kemudian di bulan oktober, setiap orang melahirkan di setiap tempat lainnya”.

Misi Wendy Lai di Haiti adalah kedua kalinya yang tergabung di MSF. Lahir di Newfoundland, dia mendapatkan gelar S1 di universitas McGill di Montreal dan menghadiri sekolah medis di universitas Western Ontario, lulus sebagai seorang dokter pada tahun 2003. Ketika Lai di SMA, dia aktif di bidang keadilan sosial dan HAM.  Sebagai editor di buletin sekolah, dia juga belajar mengenai kekuatan seorang pengacara dengan membawa cerita mereka ke kahalayak luas. Dia berpikir bahwa  menjadi dokter akan menjadi menarik apabila mereka dapat berkontribusi secara riil, dan konkrit kepada masyarakat dengan tujuan mengetahui cerita kehidupan masyarakat dengan baik.

Lai mengetahui bahwa gabungan keahlian medis, keinginan untuk menegakan keadilan sosial, dan sebuah kemauan untuk menyuarakan isu-isu ini adalah jantung pekerjaan MSF. Karena rasa ingin tahu terhadap MSF, dia memutuskan untuk meminta saran dari seseorang yang mengetahui MSF seperti yang lain. James Orbinski, mantan presiden dari dewan International dan laki-laki yang menrima nobel Peace Prize pada tahun 1999, bekerja di rumah sakit yang sama, yaitu rumah sakit Toronto dimana Lai sedng melakukan keresidenannya. Orbinski adalah juga seorang dokter, dan dia memberikan saran ke Lai terkait dengan organisasi MSF, yaitu” MSF seperti sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya. Kamu menemukan dirimu sedang melakukan sesuatu yang secara tidak sadar kalau kamu bisa melakukannya”.

Pada tahun 2006, dia dikirim ke Shabunda, sebuah daerah di bagian selatan kota Kivu, Republik kongo. Sekitar 15.000 sampai 20.000 masyarakat tersebut berada di area terpencil in. Seperti kata Orbinski yang sudah pernah mengingatkan bahwa MSF tidak seperti sesuatu pengalaman yang penrnah dijalani oleh Lai. Beberapa kerja MSF adalah sangat terspesialisasi, menangani  kasu-kasus malnutrisi, wabah kolera, atau menyediakan penyembuhan trauma di area perang. Di lain pihak Shabunda memiliki apapun. “ Ada   sebuah rumah sakit umum di kota dimana kita melakukan persalinan, pembedahan, pengobatan dalam. Disana kita menangani tuberkulosis, malnutrisi, HIV. Ketika Lai disana, dia menemuakan wabah cacar, jadi kita mengkampanyekan vaksinasi  juga. Kita juga mendukung 6 klinik kesehatan utama.

Suatu kesuksesan proyek sering berasal dari kemampuan dan kualitas para staf nasional. Pekerja kesehatan nasional dapat menjadi aset terbesar dalam organisasi.

Tapi pada saat yang sama, banyak anggota MSF mengakui bahwa perbedaan-perbedaan budaya, kemampuan, dan etika yang dapat membawa kita kepada perbedaan antara Ekspatriat dan staf nasional, kadang-kadang mencurigakan dalam keseluruhan proyek. Di Afrika dan Haiti, sebuah sejarah panjang kolonialisme telah membuat masyarakat curiga terhadap warga asing yang bertingkah seperti mereka tahu yang terbaik dan ingin merubah kebiasaan setempat. “pastinya, ada tegangan di Kongo, dimana saya sering merasakan seperti saya tidak bisa mendorong terlalu keras, atau bicara terlalu banyak, karena mereka tidak ingin mendengar hal itu”. Kata Lai.

Pada proyek Shabunda-nya, kebanyakan staf rumah sakit adalah pekerja di kementrian kesehatan Kongo yang memiliki gaji tambahan dari MSF. “adanya ketidakseimbanagan kekuatan, karena kita membawa obat-obatan, kita mencoba untuk menuruti protokol atau aturan, tapi masih saja ada pertanyaan mengenai neocolonialism ini. Aku mengerti bahwa itu membuat pekerjaan menjadi semakin sulit.

Kurang dari 15% dari pekerja MSF adalah perawat dan dokter, dan hampir sebagian adalah staf non-medis, termasuk koordiantor proyek, koordinator keuangan, dan administrasi. Termasuk di dalamnya adanya koordinator logistik. Salah satunya adalah Lesli Bell seorang koordinator logistik untuk proyek di Haiti, yang menangani terkait pembangunan rumah sakit. Sedangkan misinya dia saat tugas di kongo adalah mengatur pembangunan sebuah pusat kesehatan baru. Dia juga membangun pusat perawatana penderita kolera, di Kongo-Brazaville, dan ketika tiba di Haiti, dia membantu menangani permasalahan kekerasan seksual warga Papua New Guinea.

Ketika Lesli Bell tiba di Port-au prince, dia berniat melihat rumah sakit yang berada disana. Pertama-tama Bell tidak bisa memasuki gerbang karena ada sekitar ratusan orang berkumpul, mulai dari pasien, dan keluarganya berdiri diluar. Kemudian dia melangkah ke ruang tunggu, suasana saat itu kacau balau. Para pekerja wanita di rumah sakit itu berteriak . seorang bayi lahir di lantai , tangga, dan dimanapun. Dan Bell tidak mempercayainya. Para perawat sibuk berlari kesana kemari. Tempat tidur rumah sakit sudah penuh diisi oleh pasien dan Bell berpikir tidak mungkin menambah 20 tempat tidur baru kedalam rumah sakit ini. Dan dia memutuskan untuk mencari bangunan lain.

Pada awalnya hanya sedikit yang mendukung keputusan Bell, “setiap orang berkata, jangan menyusahkan diri”, kata Bell. “ orang sudah berusaha mencari bangunan-bangunan baru dalam setahun, tapi mereka tidak menemukannya”. Tapi aku ingin berusaha terlebih dahulu. Jadi aku menaruh sebuah tulisan iklan di kertas dan  berkata kepada seluruh staff bahwa kami sedang mencari sebuah bangunan. Kemudian suatu hari, laki-laki datang ke kantor dan berkata bahwa dia adalah pemilik sebuah bangunan yang sekarang digunakan menjadi sebuah gudang UN, dan dia berpikir bahw itu bisa digunakan menjadi rumah sakit. Tim MSF datang kesana dan setuju kemudian bangunan itu direnovasi dan selesai pada bulan Januari. Bangunan baru tersebut digunakan untuk tempat berpindahnya beberapa pasien-pasien yang memadati rumah sakit Jude Anne dan pasien yang belum tertangani di rumah sakit Jude Anne tersebut.

To be continued,,,,,,

Karena Umat Muslim Bagaikan Satu Jasad

Saudaraku Peduli Somalia yang budiman…

            Salah satu masalah kemanusiaan terbesar di dunia ini adalah masalah kemiskinan. Sebuah masalah yang melanda umat manusia termasuk didalamnya umat Islam. Masalah kaya miskin dalam masyarakat kadang-kadang dipandang sebagai masalah rawan karena keadaan demikian dapat menimbulkan kesenjangan dan masalah sosial.

Somalia sebuah negeri di ujung tanduk benua Afrika yang sedang mengalami komplikasi penyakit, dari sakit perekonomian, demam kerusuhan hingga kemiskinan yang kronis. Dan fakta dilapangan mengatakan masyarakat Somalia memeluk Agama Islam 100 %.

Bencana kemanusiaan Somalia tidak hanya bencana dunia tetapi bencana umat, yaitu umat Islam. Islam telah menunjukan kepada Kita bahwa kaum muslim bagaikan satu jasad. Sesama muslim harus saling membantu dalam hal kebaikan, menjauhi kemungkaran, melaksanakan kebajikan dan selamat dari kesengsaraan.

Umat muslim bagaikan satu jasad”, inilah yang membangunkan rasa cinta dan empati dari para muslimah-muslimah Indonesia yang terhimpun dalam Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) Se-Jabodetabek.

Tepatnya pada hari Ahad 27 Mei 2012 di Kampus Universitas Indonesia, Salemba. Sebuah agenda besar yang di gagas para muslimah FULDFK. Ditengah-tengah rangkaian acara terdapat sesi sosialisasi bencana kemanusiaan Somalia yang diisi oleh Mahasiswa Peduli Somalia. Sesi sosialisasi terkait bencana Somalia, diawali dengan perkenalan tentang Mahasiswa Peduli Somalia. Selanjutnya, sosialisasi pun dimulai dengan pemutaran film rekam jejak kondisi bencana Somalia serta penjelasannya. Dengan khidmat dan penuh keseriusan sahabat FULDFK menyimak penjelasan mengenai tragedi bencana kemanusiaan Somalia.

Tidak terasa penghujung sosialisasi pun tiba. Sebelum diakhiri, MPS memberikan kesempatan kepada sahabat FULDFK untuk memberikan pertanyaan / wacana solusi / sharing seputar Somalia.

“Dengan kondisi Saya sebagai mahasiswa yang masih aktif kuliah, dan masih banyak tugas kampus, Apakah yang bisa Saya bantu untuk Somalia?” Tanya Azizah, Seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran YARSI Jakarta. Selanjutnya MPS memberikan jawaban dari pertanyaan Azizah. Secara sederhana, kontribusi yang dapat kita lakukan dapat berupa apa saja. Kesibukan aktivitas keseharian tidak menjadi alasan untuk menunda kontribusi Kita dalam memberikan kesembuhan untuk saudara kita, Somalia. Apapun bentuk bantuan yang diberikan, Somalia pasti butuhkan. MPS pun memberikan fasilitas-fasilitas baik materi maupun non-materi yang memudahkan masyarakat Indonesia untuk memberikan kontribusi.

Karena terbatas dengan waktu yang telah ditentukan panitia, Sosialisasi pun ditutup.  Alhamdulillah, Respon yang MPS terima dari hasil di agenda Kemuslimahan FULDFK luar biasa antusias. Bahkan untuk kedepannya, Sahabat FULDFK akan menindak lanjuti kerjasama antara MPS dan FULDFK untuk memberikan kontribusi pada bencana kemanusiaan Somalia. Inilah nikmatnya, umat muslim bagaikan satu jasad.

 Image

Saudaraku Peduli Somalia yang baik hatinya…

Allah swt menciptakan setiap diri manusia memilki banyak kelebihan. Oleh karena itu, setiap kelebihan yang dimiliki hendaknya dapat memberikan manfaat baik dirinya maupun sesama. Sesibuk apapun aktivitas kita, Allah masih memberikan waktu lebih untuk memberikan peluang dalam berkontribusi untuk membantu sesama, apapun bentuknya. (Paisal/MPS)

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.