KRISIS KEMANUSIAAN TERPARAH DI DUNIA

Seorang anak perempuan, masih belasan tahun. Terhuyung-huyung tiba di kamp pengungsi mogadishu, ibukota somalia.”saya tiba di sini tak bawa apa-apa …” ujarnya lemah pada relawan kemanusiaan di mogadishu.

Anak perempuan yang berasal dari daerah yang disebut Bai. Ayahnya sudah lama wafat karena sakit. Konon keluarganya bisa dianggap berkecukupan dengan hasil ternak yang dijalani sang ibu. Namun saat bencana kemanusiaan melanda kampungnya, kondisi keluarga anak perempuan ini berubah total. Hidup di antara desingan peluru dan dentuman bom karena konflik senjata yang terjadi di Somalia, ditambah musim panas yang luar biasa hingga mengakibatkan kekeringan, membuat keluarganya tak mungkin lagi bertahan di Bai.

Seperti juga jutaan penduduk desa-desa lain di Somalia yang mengungsi, ia bersama sang ibu serta satu orang adiknya berjalan kaki menuju ibu kota Somalia, Mogadishu, untuk mendapatkan pertolongan. Malang, di tengah jalan, sang ibu terlalu letih dan kelaparan, hingga meninggal dunia. Tapi anak perempun itu tak menyerah, ia terus melangkahkan kakinya bersama sang adik, hingga tiba di Mogadihsu dan bertemu relawan kemanusiaan.

Dengan pakaian yang lusuh penuh debu ia menceritakan sedikit apa yang dialaminnya, namun saat melihat kumpulan orang mengantri untuk mengambil jatah makan, anak perempuan itu segera melesat dan lari menerobos kumpulan laki-laki yang juga tengah menanti jatah makanan. Ia membawa kantong kecil untuk bisa mengambil makanan yang tengah dibagikan. Syukur tak ada insiden dalam kenekatannya itu. Beberapa lama kemudian, ia datang dan memberi makan serta minum kepada adiknya terlebih dahulu persis seorang ibu yang memberi makan anaknya.(sumber Tarbawi edisi 259 Th.)

Ini  satu kisah nyata yang menghentak-hentak nurani kita semua, dan di Negara Somalia ada ribuan kisah pedih seperti ini.  Semua warga pedalaman Somalia ketika merasa tak ada yang bisa diharapkan lagi dari daerahnya diakibatkan kekeringan panjang dan perang bersenjata, berbondong-bondong  menyelamatkan diri mereka dan keluarga bahkan ternak ke ibukota Somalia yakni Mogadishu.

Kebanyakan dari mereka yang pergi ke Mogadishu harus menempuh dengan berjalan kaki ber mil-mil jauhnya. Tak sampai disitu saja penderitaan mereka, karena dengan perjalanan yang sangat jauh mereka pun harus berpuasa  sebab tak ada lagi yang bisa dimakan. Dengan kondisi yang sangat lemah ada dari mereka tak sanggup menempuh perjalan dan akhirnya meninggal. Ironis memang tapi itulah kenyataan sebuah Negara yang mayoritas muslim, kini dikoyak permasalahan yang begitu kompleks.

Pertanyaannya,ketika kita di indonesia bisa makan kenyang hingga dalam tahap mubadzir dan berlebihan, ternyata ada jutaan orang yang terpaksa berperang melawan lapar dan sakit, mencari sesuap makanan dan seteguk air untuk melanjutkan hidup. Krisis yang melanda somalia merupakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia yang pernah ada.(Tarbawi) Karena itu marilah kita peduli karena peduli adalah solusi. Berhati dan berbagi.

Oleh : FM_MPS

 

About komunitaspedulisomalia

Mahasiswa Peduli Somalia merupakan komunitas dari berbagai mahasiswa di Indonesia yang peduli terhadap masalah kemanusiaan masyarakat Somalia. Terbentuk secara resmi diakhir tahun 2011, MPS memiliki fokus kegiatan dalam bidang Pendidikan bagi masyarakat somalia. Serta melakukan kegiatan kampanye sekaligus penggalangan dana untuk pendidikan di Somalia. dari MEREKA untuk MEREKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: