Ringkasan Buku “The Challenge for Afrika”

Oleh: Anggun Nadia Fatimah (Relawan Komunikasi ACT)

Pengantar

Perbincangan menyangkut Afrika membutuhkan ruang panjang untuk berpikir. Ada banyak sekali faktor pendorong terjadinya fenomena sosial kemanusiaan yang kini melilit negara-negara di benua Afrika. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi mencakup ranah politik, sosial, ekonomi, budaya, dan kemanusiaan. Tantangan tidak hanya berasal dari kondisi fisik (alam) negeri-negeri Afrika, tetapi juga karena faktor sosial yang membuat risiko-risiko alami meluas dan menjadi bola salju bencana kemanusiaan.

Afrika adalah benua yang dihuni oleh ratusan juta penduduk miskin, kelaparan, kekeringan, penuh konflik, akses pendidikan dan kesehatan yang amat terbatas di beberapa wilayah, kontur bumi yang relatif ‘berat’ (dipenuhi hutan, bukit, wadi[1] dan gurun), tingginya angka kematian, wabah penyakit, deforestasi, utang luar negeri yang besar, rendahnya penghargaan terhadap budaya lokal, inferior secara psikis, dan kelangkaan pemimpin.

Wangari Muta Maathai adalah seorang aktivis lingkungan kelahiran Kenya, pendiri Green Belt Movement. NGO (non governmental organization) yang didirikannya mengkampanyekan pemulihan kondisi ekosistem Afrika melalui penanaman kembali hutan bekerja sama dengan wanita-wanita di pedesaan Afrika. Peraih nobel perdamaian 2004 ini, merangkaikan pemikirannya tentang reformasi Afrika di berbagai sisi – terutama melalui konservasi lingkungan -, dalam buku The Challenge for Afrika. Buku ini terdiri dari 14 bagian yang masing-masing membahas permasalahan yang Afrika hadapi. Mantan Deputi Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam Kenya ini, juga menawarkan alternatif solusi, dari mana bangsa ini harus memulai perbaikan kehidupannya.

Chapter I

Bagian pertama tulisan Wangari Maathai memotret praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan di Afrika. Sistem pertanian ini dikenal dengan nama subsistence farming. Pertanian subsisten adalah pola penanaman lahan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga harian. Pertanian jenis ini hanya cukup untuk kebutuhan harian satu keluarga, dan sedikit tersisa untuk dapat dipertukarkan di pasar. Para pengembangnya (petani subsisten) tidak memiliki orientasi pemenuhan kebutuhan jangka panjang. Bagi mereka, kebutuhan adalah apa yang harus dipenuhi hari ini. Kebutuhan adalah memperoleh makanan yang cukup untuk bertahan hidup di hari itu dan beberapa saat setelahnya.

Pertanian subsisten adalah potret buruknya pengelolaan lahan tidak hanya di Afrika, tetapi juga di tanah-tanah agraris di negara-negara berkembang. Di benua Afrika sendiri, 65% penduduknya adalah petani subsisten. The Farmer of Yaonde berkisah tentang penerapan konsep pertanian subsisten di lereng-lereng gunung di Yaonde – yang kemudian digunakan sebagai generalisasi pandangan terhadap kompleksitas masalah senada di Afrika. Petani subsisten Yaonde, menanami lereng-lereng bukit. Ketika hujan, tanam-tanaman di lereng rawan terbawa arus air. Petani Yaonde menggali parit-parit yang sealur dengan gradien bukit. Mereka berpikir, jika hujan datang, parit-parit ini akan mengalirkan air tanpa membiarkannya mengganggu tanam-tanaman di lereng yang mereka jadikan ladang.

Sayangnya, para petani subsisten yang identik dengan rendahnya pemahaman konservasi lingkungan ini tidak menyadari, pola alur air yang mereka siapkan bukanlah jawaban yang tepat mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Pola ini bukan hanya gagal menampung (menyerap) air hujan ke tanah, tetapi juga membiarkan tanah perbukitan tererosi bersama dengan tanam-tanaman hasil kerja keras para petani ini. Kesuburan tanah berkurang dan terus berkurang, seperti yang lazim terjadi pada areal yang digunakan untuk pertanian subsisten. Lahan yang sudah tidak subur lagi akan ditinggalkan. Para petani  membuka lahan baru dengan cara tebang-bakar yang lebih dikenal dengan metode ‘ladang berpindah’. Dalam proses pengolahan ladang berpindah, masyarakat biasanya akan membakar lahan sebelum di cangkul untuk di tanami. Akibat dari pembakaran lahan adalah merubah struktur tanah menjadi kering, tanah mudah longsor dan terjadinya banjir karena resapan tanah tidak optimal[2].

Idealnya, petani ini mengolah lereng-lereng tersebut menjadi petak berundak-undak, sebuah pola pengelolaan tanah yang di Indonesia di kenal dengan sebutan ‘terasering’. Terasering memungkinkan air hujan mengalir perlahan dan sempat tertampung dalam jumlah kecil di antara undakan-undakan tanah. Jumlah yang masih ideal untuk diserap kembali oleh tiap undakan tanah perbukitan yang diformat dalam bentuk terasering tadi.

Deforestasi terjadi dengan berbagai alasan. Mulai dari yang besar, seperti illegal logging, dan pemanfaatan lahan oleh pihak asing, hingga yang mikro bentuknya, seperti pembabatan lahan untuk pertanian subsisten. Dampak deforestasi dalam skala regional diantaranya adalah menipisnya spesies hewan dan tumbuhan, kekeringan, berkurangnya kesuburan lahan dan berkurangnya cadangan makanan. Imbas deforestasi tidak hanya dialami penduduk setempat. Afrika terkenal sebagai paru-paru dunia lantaran kepemilikannya atas dua areal hutan terluas di dunia : hutan hujan tropis Amazon (Amazon Rainforest), dan hutan Kongo (Congo Basin Forest). Deforestasi menyempitkan areal hijau di Afrika, dalam skala internasional, hal ini berpengaruh besar pada proses pemanasan global dan perubahan iklim.

Lebih dari separuh penduduk Afrika hidup di sektor agraris. Sayangnya, tidak seluruh tanah Afrika cocok digunakan sebagai lahan pertanian. Kultur agraris yang tidak sepaham dengan konsep konservasi lingkungan berdampak signifikan pada deforestasi hutan Afrika. Kebiasaan bercocok tanam dan pengolahan lahan yang salah membuat tanah semakin tandus dan ketersediaan cadangan makanan semakin rendah. Perlahan tapi pasti, berbagai elemen bergerak membenahi keterpurukan Afrika. Ragam konferensi dengan ranah bahasan yang juga beragam, digagas untuk merumuskan kerja reformasi Afrika. Akan tetapi, semua gagasan ektsternal hanya akan menjadi kulit luar. Sejatinya, perbaikan itu harus dimulai dari lini akar rumput, masyarakat sipil (menengah dalam poleksosbud), hingga birokrat paling tinggi di masing-masing negara Afrika.

Maathai sangat menyadari kebutuhan akan perubahan dari internal masyarakat. Menurutnya, langkah praktis yang mesti ditempuh paling awal adalah menggeser pola berpikir masyarakat agrikultur Afrika. Bagi Maathai, deforestasi akan menjadi masalah selama paradigma masyarakat, kultur cocok tanam, dan kultur olah tanahnya tidak diperbaiki. Masyarakat harus disadarkan bahwa orientasi pemenuhan kebutuhan jangka pendek melalui pola pertanian subsisten ini bukan gagasan yang tepat. Baik pemerintah maupun NGO harus mengupayakan pencerdasan bagi masyarakat tani tentang tata kelola tanah dan tanam tumbuh yang benar dan sustainabel. Pendidikan adalah salah satu ujung tombaknya. Melalui pendidikan yang intensif, generasi penerus bangsa Afrika akan memiliki sejumlah alasan yang tepat mengapa pertanian subsisten ala pendahulunya bukanlah langkah yang tepat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat mereka.

Maathai juga menekankan bahwa reformasi ini idealnya mengutamakan kebermanfaatan jangka panjang, alih-alih keuntungan sesaat. Peningkatan kapasitas kewirausahaan juga penting untuk membentengi rakyat dari kompetisi yang tidak adil dan mengarahkan pemberdayaan ekonomi sebagai pendongkrak nilai komoditas sekaligus kesejahteraan rakyat. Peran pemimpin menjadi vital di sini. Afrika dalam pandangan Maathai, mengalami kelangkaan jiwa kepemimpinan. Penguasa negara dan aparatnya mempraktikkan kultur yang buruk dalam pemerintahan. Medan politik Afrika sarat dengan konflik kepentingan berbasis etnis atau golongan. Pemimpin ideal memberikan teladan penanaman dan implementasi nilai kebaikan universal seperti jujur, adil, dan peduli pada nasib sesama. Hal terpenting yang kini dibutuhkan dari diri seorang pemimpin dalam perspketif Maathai, adalah sensitivitas untuk melayani kebutuhan rakyatnya.

Dalam mewujudkan reformasi menyeluruh, selain karakter pemimpin yang tangguh, kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk melakukan kontrol sosial terhadap kinerja negara adalah faktor lain yang tidak kalah pentingnya. Gagasan tentang kerja tim dalam sebuah negara melingkupi seluruh elemen dari seluruh sendi kehidupan negara. Kesadaran bersama dan satu kata sepakat untuk sama-sama bangkit adalah modal besar untuk menarik Afrika dari keterpurukan kondisinya.


[1] Palung sungai kering yang hanya mengandung  air selama hujan lebat

About komunitaspedulisomalia

Mahasiswa Peduli Somalia merupakan komunitas dari berbagai mahasiswa di Indonesia yang peduli terhadap masalah kemanusiaan masyarakat Somalia. Terbentuk secara resmi diakhir tahun 2011, MPS memiliki fokus kegiatan dalam bidang Pendidikan bagi masyarakat somalia. Serta melakukan kegiatan kampanye sekaligus penggalangan dana untuk pendidikan di Somalia. dari MEREKA untuk MEREKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: