HOPE IN HELL (Inside The World Doctors without Borders)

Judul Buku : HOPE IN HELL (Inside The World of Doctors Without Borders)

Ditulis oleh :  Dian Intan Yasmin Putri

Divisi  : Kerelawanan

Image

Sekelompok dokter-dokter perancis bekerja di rumah sakit palang merah di Biafra, Nigeria pada tahun 1968. Mereka terkejut terhadap apa yang mereka lihat -ratusan dari ribuan anak-anak meninggal karena kekurangan gizi- dan mereka percaya bahwa mereka adalah saksi dari sebuah genosida (red.upaya memusnahkan suatu bangsa). Dokter Perancis, Bernand Koucher, tidak bisa tinggal diam melihat kejadian itu. Kembalinya ke Perancis, mereka mengorganisir kelompok untuk meningkatkan kesadaran akan genosida dan nantinya, sekelompok dokter-dokter tersebut mengabdikan dirinya  untuk bantuan medis darurat. Pada waktu yang sama, surat kabar medis Perancis mengabarkan sebuah panggilan untuk relawan-relawan dokter untuk membantu korban gempa dan banjir. Dua kelompok akhirnya terbentuk ada tahun 1972 dari dan untuk Medecins Sans Frontieres (MSF). 29 tahun kemudian, MSF menerima sebuah nobel “Peace Prize for Being Emergency Aid Rebels” yang telah membuka jalan baru dalam dunia kemanusian internasional.

MSF – juga dikenal di Amerika utara sebagai doketer tanpa batas, dan secara universal, dikenal sebagai MSF – adalah organisasi kemanusian medis independen yang terbesar di dunia. Pada tahun 2008, MSF dalam proyek berjalannya di 65 negara, menempatkan lebih dari 26.000 staf di lapangan. Saat MSF terkenal untuk proyek-proyek besar di area konflik, kamp-kamp pengungsi, dan negara-negara yang dilanda kelaparan, MSF juga menjalankan program diluar dalam lingkup yang lebih kecil di bidang media; mendukung klinik-klinik kesehatan di daerah pedalaman;  menyediakan perawatan untuk korban AIDS; membawa air bersih dan sanitasi untuk desa-desa terpencil.

MSF fokus kepada bantuan untuk masyarakat yang terkena krisis akut, seperti perang atau kelparan, wabah atau bencana alam. MSF membawa kepedulian akan kesehatan untuk area-area miskin, tapi tidak berusaha untuk menghapuskan kemiskinan.

Di tahun 1980an , MSF menambahkan kantor –kantor di Belgium, Swiss, Belanda, Perancis, Luxemburg. Reputasi MSF secara terus-menerus tumbuh. MSF menjadi dikagumi karena logistikannya dan keefisienannya dalam penggunaan sumber daya.

Selama tahun 1990an, MSF menjadi sebuah organisasi global, menambah bagian di US, Kanada, Jeppang, Hong Kong, Australia. Dekade pertama dari tahun milenium  baru membawa tantangan baru, dari kejadian 11 September “perang dalam teror” sampai kelumpuhan Darfur dan yang berdekatan dengan Chad, dan kelaparan di Nigeria. MSF terus menerus mengembangkan dirinya sebagai sebuah organisasi; menambah partner baru yang sebagian besar adalah negara-negara islam; menambah kan kantornya di Afrika Selatan, Afrika, dan Asia; dan memberikan tanggung jawab yang lebih kepada stafnya.

Chapter one : Pemberhentian dan Kelahiran

Dr. Wendy Lai terbiasa menyaksikan wanita-wanita melahirkan bayi-bayinya di tempat yang tidak biasa. Sejak kedatangannya di Port-au-Prince pada bulan September 2008, dokter yang berumur 33 tahun itu,  melihat ibu-ibu melahirkan di tangga-tangga, kamar mandi, dan diatas tanah diluar Jude Anne, rumah sakit bersalin yang dioperasikan oleh MSF cabang Belanda. Tapi bahkan Lai sangat terkejut ketika seorang pengawal menjemputnya di akhir bulan Oktober untuk mengatakan bahwa seorang wanita telah melahirkan di persimpangan jalan.

Lai dan pengawal itu terburu-buru berjalan menuruni Delmas, salah satu jalan tersibuk di Haitian Capital. Tiba-tiba, ada seorang pasien yang berada di bangku belakang di sebuah stasiun kereta tua, berhenti memukulkan perutnya di tengah-tengah keramaian persimpangan jalan itu. Bayi itu terlihat kuat dan sehat, sehingga Lai mengepit dan memotong tali pusar, menggosok-gosok bayi itu dengan selimut, dan berjalan bersama ayahnya yang menyeringai senang dan kembali ke Jude Anne.

Lima bulan kemudian, Lai dan kolega-kolega MSFnya sedang menyelesaikan makannya di satu-satunya restoran italia yang hanya ada di Petionville, bagian pinggiran kota Port-au-Prince. Bartender itu mendatangi meja makannya dengan senyum lebar dan sebuah foto seorang bayi wanita. Dia menunjukan gambar itu kepada Lai dan bertanya apakah Lai mengingat anak ini. Laki-laki itu secara jelas menyadari Lai sebagai salah salah seorang dari beberapa dokter dari rumah sakit dimana bayinya lahir. Lai tidak ingin kasar, tapi Jude Anne sedang menangani lebih dari seribu lahiran setiap bulannya. Bagaimana mungkin dia mengingat bayi ini? Tapi ayah itu bersikukuh. “kamu mengingat.” Katanya. “Dia lahir di dalam mobil,  Di persimpangan jalan”.Kata laki-laki itu. Lai tersenyum saat ingatan akan hal itu kembali, ingatan tajam mengenai nilai-nilai bekerja MSF di negara bermasalah ini. “ itu sangat melegakan untuk melihat bayi-bayi di Jude Anne nantinya, berjalan dengan baik, “dia seharusnya menulis di journalnya.” Pada bulan Oktober, karena kita ada pertemuan penuh sehingga membuat kita sibuk. Kadangkala, kita lupa bahwa bayi itu tumbuh dan berkembang dan mempunyai masa depan., karena kita tidak ada disana untuk mengikuti perkembangan mereka. Tapi, tentunya, Jude Anne Hospital melakukannya. Dan orang mereka tidak akan melupakannya”.

Sebelum Wendy Lai tiba di Haiti, dia bekerja di rumah sakit Toronto yang mengerjakan ilmu kebidanan dengan risiko yang rendah. Itu berarti proses kelahiran yang tidak begitu rumit dengan fasilitas peralatan yang baik, dan dengan seorang dokter yang selalu menyediakan seseorang yang siap memback-up dan banyak tenaga kerja suster yang membantu. Ibu yang melahirkan di persimpangan itu adalah bebarapa diantaranya yang beruntung; paling tidak dia ditangani baik dalam perawatan medisnya, sebuah sesuatu yang jarang di negara Caribbean dari 9 juta penduduknya. Bagi sebagian, pemeliharaan kesehatan di Haiti adalah sebuah malapetaka, khususnya bagi wanita dan anak-anak. Negara ini, memiliki tingkat kematian bayi  dan kematian ibu tertinggi di bagian baratnya. Untuk setiap 1000 bayi yang lahir disini, sekitar 60-nya tidak akan bisa melihat ulangtahun pertama mereka ( membandingkan 5 atau 6 di US, Kanada, dan UK), dan sekitar 5 ibu meninggal, rata-rata paling tidak 50 kali, hal ini  terjadi di negara-negara berkembang. Sementara minoritas orang-orang kaya dapat memberikan perawatan dengan kualitas baik di banyak klinik-klinik milik privat di  Port-au-Prince dan beberapa rumah sakit disana. sebanayak 70% dari populasi ini tidak memiliki sama sekali pemeliharaan kesehatan. Tidak aneh, harapan hidup dari kelahiran bayi di Haiti hari ini lebih rendah dari 61 tahun yang lalu, peringkat ke 181 diantara 224 negara di dunia. Angka-angka itulah yang MSF sedang harapkan untuk merubahnya.

Perawatan untuk para ibu di Haiti seharusnya gratis. Pada Maret 2008, Menteri kesehatan negara meluncurkan sebuah program  yang disebut Soins Obstetriques Ggratuits, di desain untuk memberikan harapan pada setiap ibu dengan adanya 4 fasilitas konsultasi sebelum melahirkan, fasilitas kelahiran di rumah sakit umum – termasuk proses sesar apabila dibutuhkan- satu fasilitas kunjungan setelah melahirkan, dan kebutuhan pengobatan lainnya. Berdasarkan program ini, rumah sakit umum diharapkan memberikan perawatannya secara gratis dan nantinya mengumpulkan sebuah tuntutan kepada WHO untuk penukaran pembayaran. Satu tahun setelah itu, MSF menemukan bahwa banyak wanita yang tentu saja dapat melahirkan secara gratis, tapi mereka masih diminta untuk membayar obat-obatan, dan itu terjadi di  sebuah negara semiskin Haiti, bahkan $5 sulit untuk  bisa didapatkan.

Dengan sedikit terkejut, ibu-ibu yang sedang mengandung membanjiri Jude Anne sesegera, rumah sakit itu dibuka pada bulan Maret 2006. Pada saat itu, Lai tiba dua sampai satu setengah tahun kemudian, 65 tempat tidur di rumah sakit diisi oleh rata-rata lebih dari 50 orang yang melahirkan per harinya, dengan hari-hari yang teramai bisa mencapai 80 orang.  Kepadatan akut terjadi di bulan Oktober 2008.

MSF Jude Anne di Port-au-Prince sering penuh sehingga para pekerja wanita terpaksa bebohong kepada para pasien yang sedang menunggu antrian kamar. Tapi Jude Anne tetap menawarkan beberapa rumah sakit bersalin yang terbaik di kota ini.

Alasan mengapa terjadi peningkatan kelahiran secara dramatis selama bulan oktober adalah seperti banyak negara-negara Karibia lainnya, Haiti merayakan karnaval di bulan Februari dan Maret, selama 3 hari dengan pertunjukan musik, pawai, pakaian tradisional, tari-tarian, dan dalam melakukan hubungan seks. 9 bulan kemudian, gelombang karnaval untuk para baiyi-bayi tiba. Ketika Lai pertama kali mendengar cerita mengenai masa puncak reproduktivitas Haiti, dia berpikir bahwa itu adalah legenda di kota itu. Tapi ketika dia mengetes itu dengan roda kehamilan – sebuah alat yang dapat digunakan untuk menentukan tanggal kelahiran berdasarkan siklus periode terakhir menstruasi wanita – dia menemukan bahwa perhitungan dengan alat itu berhasil. “ untuk seseorang yang mengandung selama Mardi Gras, peride menstruasi terakhir seharusnya sekitar minggu pertama bulan Februari. Saya Menggunakan roda kehamilan dan melihat tanggal kelahiran seharusnya dari satu masa kehamilan penuh, dan itu jatuh terpukul pada bulan Oktober. suasana agak sepi di rumah sakit pada bulan Februari dan Maret, dan pada bulan April dan Mei, kita mulai melihat berbagai keguguran yang secara tiba-tiba dan wanita-wanita yang berusaha mengaborsi kandungannya. Dan juga wanita-wanita akan mulai  berdatangan dengan berbagai komplikasi pada awal kehamilan, seperti kehamilan Ectopic. Sepanjang musim panas, kita mulai melihat bayi-bayi prematur, dan kemudian di bulan oktober, setiap orang melahirkan di setiap tempat lainnya”.

Misi Wendy Lai di Haiti adalah kedua kalinya yang tergabung di MSF. Lahir di Newfoundland, dia mendapatkan gelar S1 di universitas McGill di Montreal dan menghadiri sekolah medis di universitas Western Ontario, lulus sebagai seorang dokter pada tahun 2003. Ketika Lai di SMA, dia aktif di bidang keadilan sosial dan HAM.  Sebagai editor di buletin sekolah, dia juga belajar mengenai kekuatan seorang pengacara dengan membawa cerita mereka ke kahalayak luas. Dia berpikir bahwa  menjadi dokter akan menjadi menarik apabila mereka dapat berkontribusi secara riil, dan konkrit kepada masyarakat dengan tujuan mengetahui cerita kehidupan masyarakat dengan baik.

Lai mengetahui bahwa gabungan keahlian medis, keinginan untuk menegakan keadilan sosial, dan sebuah kemauan untuk menyuarakan isu-isu ini adalah jantung pekerjaan MSF. Karena rasa ingin tahu terhadap MSF, dia memutuskan untuk meminta saran dari seseorang yang mengetahui MSF seperti yang lain. James Orbinski, mantan presiden dari dewan International dan laki-laki yang menrima nobel Peace Prize pada tahun 1999, bekerja di rumah sakit yang sama, yaitu rumah sakit Toronto dimana Lai sedng melakukan keresidenannya. Orbinski adalah juga seorang dokter, dan dia memberikan saran ke Lai terkait dengan organisasi MSF, yaitu” MSF seperti sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya. Kamu menemukan dirimu sedang melakukan sesuatu yang secara tidak sadar kalau kamu bisa melakukannya”.

Pada tahun 2006, dia dikirim ke Shabunda, sebuah daerah di bagian selatan kota Kivu, Republik kongo. Sekitar 15.000 sampai 20.000 masyarakat tersebut berada di area terpencil in. Seperti kata Orbinski yang sudah pernah mengingatkan bahwa MSF tidak seperti sesuatu pengalaman yang penrnah dijalani oleh Lai. Beberapa kerja MSF adalah sangat terspesialisasi, menangani  kasu-kasus malnutrisi, wabah kolera, atau menyediakan penyembuhan trauma di area perang. Di lain pihak Shabunda memiliki apapun. “ Ada   sebuah rumah sakit umum di kota dimana kita melakukan persalinan, pembedahan, pengobatan dalam. Disana kita menangani tuberkulosis, malnutrisi, HIV. Ketika Lai disana, dia menemuakan wabah cacar, jadi kita mengkampanyekan vaksinasi  juga. Kita juga mendukung 6 klinik kesehatan utama.

Suatu kesuksesan proyek sering berasal dari kemampuan dan kualitas para staf nasional. Pekerja kesehatan nasional dapat menjadi aset terbesar dalam organisasi.

Tapi pada saat yang sama, banyak anggota MSF mengakui bahwa perbedaan-perbedaan budaya, kemampuan, dan etika yang dapat membawa kita kepada perbedaan antara Ekspatriat dan staf nasional, kadang-kadang mencurigakan dalam keseluruhan proyek. Di Afrika dan Haiti, sebuah sejarah panjang kolonialisme telah membuat masyarakat curiga terhadap warga asing yang bertingkah seperti mereka tahu yang terbaik dan ingin merubah kebiasaan setempat. “pastinya, ada tegangan di Kongo, dimana saya sering merasakan seperti saya tidak bisa mendorong terlalu keras, atau bicara terlalu banyak, karena mereka tidak ingin mendengar hal itu”. Kata Lai.

Pada proyek Shabunda-nya, kebanyakan staf rumah sakit adalah pekerja di kementrian kesehatan Kongo yang memiliki gaji tambahan dari MSF. “adanya ketidakseimbanagan kekuatan, karena kita membawa obat-obatan, kita mencoba untuk menuruti protokol atau aturan, tapi masih saja ada pertanyaan mengenai neocolonialism ini. Aku mengerti bahwa itu membuat pekerjaan menjadi semakin sulit.

Kurang dari 15% dari pekerja MSF adalah perawat dan dokter, dan hampir sebagian adalah staf non-medis, termasuk koordiantor proyek, koordinator keuangan, dan administrasi. Termasuk di dalamnya adanya koordinator logistik. Salah satunya adalah Lesli Bell seorang koordinator logistik untuk proyek di Haiti, yang menangani terkait pembangunan rumah sakit. Sedangkan misinya dia saat tugas di kongo adalah mengatur pembangunan sebuah pusat kesehatan baru. Dia juga membangun pusat perawatana penderita kolera, di Kongo-Brazaville, dan ketika tiba di Haiti, dia membantu menangani permasalahan kekerasan seksual warga Papua New Guinea.

Ketika Lesli Bell tiba di Port-au prince, dia berniat melihat rumah sakit yang berada disana. Pertama-tama Bell tidak bisa memasuki gerbang karena ada sekitar ratusan orang berkumpul, mulai dari pasien, dan keluarganya berdiri diluar. Kemudian dia melangkah ke ruang tunggu, suasana saat itu kacau balau. Para pekerja wanita di rumah sakit itu berteriak . seorang bayi lahir di lantai , tangga, dan dimanapun. Dan Bell tidak mempercayainya. Para perawat sibuk berlari kesana kemari. Tempat tidur rumah sakit sudah penuh diisi oleh pasien dan Bell berpikir tidak mungkin menambah 20 tempat tidur baru kedalam rumah sakit ini. Dan dia memutuskan untuk mencari bangunan lain.

Pada awalnya hanya sedikit yang mendukung keputusan Bell, “setiap orang berkata, jangan menyusahkan diri”, kata Bell. “ orang sudah berusaha mencari bangunan-bangunan baru dalam setahun, tapi mereka tidak menemukannya”. Tapi aku ingin berusaha terlebih dahulu. Jadi aku menaruh sebuah tulisan iklan di kertas dan  berkata kepada seluruh staff bahwa kami sedang mencari sebuah bangunan. Kemudian suatu hari, laki-laki datang ke kantor dan berkata bahwa dia adalah pemilik sebuah bangunan yang sekarang digunakan menjadi sebuah gudang UN, dan dia berpikir bahw itu bisa digunakan menjadi rumah sakit. Tim MSF datang kesana dan setuju kemudian bangunan itu direnovasi dan selesai pada bulan Januari. Bangunan baru tersebut digunakan untuk tempat berpindahnya beberapa pasien-pasien yang memadati rumah sakit Jude Anne dan pasien yang belum tertangani di rumah sakit Jude Anne tersebut.

To be continued,,,,,,

About komunitaspedulisomalia

Mahasiswa Peduli Somalia merupakan komunitas dari berbagai mahasiswa di Indonesia yang peduli terhadap masalah kemanusiaan masyarakat Somalia. Terbentuk secara resmi diakhir tahun 2011, MPS memiliki fokus kegiatan dalam bidang Pendidikan bagi masyarakat somalia. Serta melakukan kegiatan kampanye sekaligus penggalangan dana untuk pendidikan di Somalia. dari MEREKA untuk MEREKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: